oleh

Putusan MA Menentukan Damai Atau Konflik Di Biak Numfor Papua

BIAK, LiputanGo.com -Menjelang Pilkada 27 juni 2018 mendatang, berbagai strategi di keluarkan para pasangan calon kepala daerah, bahkan ada strategi yang diduga menggugurkan pasangan calon lainnya, sama seperti yang terjadi di Kabupaten Biak Numfor, Propinsi Papua. Dimana pasangan calon nomor urut 3 (Nicodemus Ronsumbre dan Akmal Bachri) menggugat pasangan calon nomor urut 2 Herry Nehem yang merupakan petahana, membuat suasana Pilkada semakin memanas.

 

Hasil keputusan Pengadilan Tinggi Tahta Usaha Negara (PTTUN) Makasar yang mendiskualifikasi Paslon nomor urut 2 Herry Nehem membuat pendukung merasa kecewa dan geram. Hal tersebut dituturkan Obeth Ap, Selasa (24/04).

Menurutnya, Kekecewan itu muncul ketika pasangan calon nomor urut 3 (Nicodemus Ronsumbre dan Akmal Bahri-red) yang sudah menandatangani Kesepakatan Pilkada Biak Numfor Damai dan Aman Serta Sportif namun kenyataan tidak demikian. “Kami sangat kecewa dan kepada Paslon nomor urut 3, mereka tidak memegang komitmen, sampai-sampai mengajukan Gugatan untuk menggurkan Herry Nehem, padahal kebijakan yang dilakukan oleh Herry Naap dengan menunjuk Plh Direktur RSUD Biak Numfor pada saat dia menjabat Plt Bupati, adalah tindakan yang tepat untuk masyarakat Biak Numfor yang teriak akibat kekurangan obat serta penyalah gunaan kewenangan sebagai direktur,” ujarnya.

 

Sementara itu Frans Somnof memberikan pendapat bahwa hal seperti ini bisa saja menyebabkan konflik di daerah Biak Numfor. “Ya ini bisa saja menyebabkan konflik, karena kekecewaan membuat para pendukung simpatisan paslon nomor urut 2 menjadi geram, jika kalah dalam pertarungan di Pilkada 27 Juni 2018 bisa diterima, akan tetapi jika gugur dengan cara seperti ini kami tidak terima dan bisa kami pastikan stabilitas keamanan daerah Biak Numfor pasti terganggu, karena Herry Nehem memiliki simpatisan Rakyat yang sangat luar biasa,” katanya.

Lanjutnya, “Bukan tidak mungkin ketika MA menggugurkan Herry Nehem konfik di Biak akan terjadi, itu juga sudah terlihat pada Aksi terakhir di kantor Panwas dan kantor Bupati Biak Numfor, dimana masyarakat Biak Barat Swandiwe yang adalah pendukung Herry Nehem sangat marah dan sudah mempersiapkan diri masing-masing dengan membawa senjata tajam seperti layaknya pergi berperang, Jadi Putusan MA menentukan Damai atau Konflik di Kabupaten Biak Numfor, Propinsi Papua,” tandasnya.(BT)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru